MURTADNYA ‘PERS ISLAM’

Lutfi Muhammad – AB 1 KAMMI Komisariat Sepuluh Nopember

“Kalau masih ditanya juga soal apa agama saya, saya akan jawab: agama saya adalah jurnalisme.” (Andreas Harsono, Jurnalis)

Mengutip ungkapan dari Andreas Harsono jika jurnalisme adalah sebuah agama dan kultur pers yang sehat adalah iman dan ajarannya. Bisa jadi banyak pers yang telah murtad dari agamanya, dan pers Islam adalah salah satunya.

Pengantar

Perkembangan teknologi dan kemudahan informasi membawa kemajuan dan perubahan pada bayak hal, salah satunya Pers. Namun sangat disanyangkan kemudahan ini menjadi bumerang bagi pers itu sendiri. Pelanggaran kode etik jurnalistik kerap terjadi, budaya citasi tidak lagi diperhatikan, verifikasi fakta dan independensi pers untuk melayani masyarakat dengan informasi yang lurus semakin dipertanyakan. Hal ini semakin diperparah dengan ditungganginya pers oleh kepentingan politik. Sialnya kultur buruk ini turut menjangkiti Pers islam. 

Anda pasti pernah mendengar portal seperti islamtoleran, VOA Islam, Suaranews, PKSpiyungan dll. Periksa dan cek masihkah etika jurnalistik berlaku di sana ? Bahkan dikarenakan reputasinya, Kaskus.com, salah satu forum dikusi online terbesar di Indonesia melarang adanya referensi yang merujuk ke beberapa sumber di atas.

Melihat realita pers islam saat ini bukan hal yang mengherankan banyak masyarakan memilih pers yang ‘bukan islam’. Asumsi masyarakat umum saat ini adalah Pers islam lebih gemar mempublikasi ‘kabar baik’ daripada ‘kabar benar’ membuat pers islam semakin termarjinalkan. Tentu masih banyak pers islam yang berkualitas. Namun realita yang terjadi justru justifikasi negatif sedemikian melekat pada pers islam. Hal ini tentu harus menjadi bahan refleksi bagi muslim keseluruhan. Bayak hal yang harus dibenahi untuk membangun kembali reputasi dan menghapus dosa-dosa ‘oknum’ pers islam.

Pers Islam

Secara etimologi pers berasal dari bahasa Belanda yang berarti cetak. Secara terminologi pers berarti penyiaran secara tercetak. Dalam perkembangannya terdapat dua pemahaman pengertian pers, yaitu dalam arti luas dan dalam arti sempit. Dalam pengertian luas, pers mencakup semua media komunikasi massa yang berfungsi menyebarkan informasi satu sama lain. Dalam pengertian sempit, pers merujuk pada media-media yang melewati proses percetakan, seperti koran, majalah, buletin dll yang kemudian dikenal sebagai media cetak.

Mengenai pers islam sendiri, menurut Adian Husaini pers islam adalah media yang menyuarakan kebenaran, baik itu media umum atau media Islam. Jika merujuk pada definisi tersebut, maka teranglah bagaimana posisi pers islam saat ini. Bisa jadi KOMPAS dan TEMPO jauh lebih islami daripada pers yang mengatasnamakan islam.

Sementara itu, litbang Republika mendefinisikan pers Islam sebagai pers yang dalam kegiatan jurnalistiknya melayani kepentingan umat Islam, baik yang berupa materi maupun nilai-nilai. Pers Islam di sini lebih menjurus pada pers yang menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam, khususnya yang menyangkut agama dan umat Islam kepada khalayak, serta berbagai pandangan dengan perspektif ajaran Islam.Tidak seperti pers pada umumnya, selain wajib mematuhi kode etik jurnalistik, pers islam wajib mengemban misi dakwah amar makruf nahi mungkar. Pers yang becirikan islam wajib menghindari hal-hal yang bertentangan dengan syariat islam. Layaknya pers pada umumnya Pers Islam juga wajib menyampaikan informasi yang benar. Pers Islam wajib selalu meneliti kebenaran informasi, serta tidak melakukan plagiat. Pers Islam juga wajib menghindari penyebaran informasi yang bersifat dusta dan fitnah.

Menurut Ulfah Rahmaniar, pers islam memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Pers Islam sebagai upaya dakwah bil qalam yang utama harus mengemban misi amar ma’ruf nahi munkar.
2. Menyebarkan informasi tentang perintah dan larangan Allah SWT.
3. Berusaha mempengaruhi khalayak agar berpihak sesuai ajaran Islam.
4. Senantisa menghindari gambar-gambar ataupun ungkapan-ungkapan yang tidak islami (pornografi dan pornoaksi).
5. Mentaati kode etik jurnalistik.
6. Menulis dan melaporkan yang dilakukan secara jujur, tidak memutarbalikan data dan fakta yang ada.

Pers Islam Masa Lalu

Pers islam mulai bermunculan pada masa pergerakan nasional bersamaan dengan tumbuhnya organisasi-organisai islam di Indonesia. Hampir setiap organisasi islam memiliki medianya sendiri-sendiri untuk berdakwah. Sarekat Dagang Islam (SDI) mendirikan Soenda Berita, sebuah mingguan berbahasa melayu pertama di Indonesia tahun 1903. Sarekat Islam mereka menerbitkan Al Islam pada tahun 1916. Tokoh-tokoh Muhammadiyah mendirikan Doenia Bergerak yang terbit pada tahun 1914 kemudian dilanjutkan dengan penerbitan Soewara Moehammadijah  dan Bintang Islam. Nadhlatul Ulama menerbitkan Suara NU pada tahun 1926 dan kemudian dilanjutkan dengan terbitnya Soeloeh NU pada tahun 194. Sementara itu Persatuan Islam (Persis) menerbitkan Pembela Islam pada tahun tahun 1929.

Pers Islam pada masa itu selain sebagai media dakwah islam juga berfungsi sebagai media perlawanan terhadap kolonialisme. Idealime pers islam pada masa itu terfokus pada semangat kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan. Selain pers islam, turut berkembang pula pers yang berhalauan sosialisme, keduanya memiliki persamaan dalam hal anti-kolonialisme, kebangsaan dan harapan untuk kemerdekaan. Oleh karena itu bukanlah hal yang mengherankan jika pers islam dan pers yang berhalaun sosialis masa itu berkolaborasi melawan penjajahan. Medan Muslimin adalah salah satu contohnya, surat kabar berhalauan Islam Sosialis yang didirikan Haji Misbach pada tahun 1915.

Ketika pendudukan militer jepang, pers di Indonesia ditutup.Termasuk didalamnya pers islam. Jepang kemudian menerbitkan surat kabar dan majalah di beberapa kota-kota besar di Indonesia dengan kewajiban menyajikan propaganda untuk kepentingan Jepang.

Sesudah kemerdekaan Indonesia, Pers Islam kembali berkembang ditandai dengan bermunculan pers yang berbasis Islam seperti Panji Masyarakat, Kiblat, Duta Masyarakat (NU), Mercu Suar (Muhammadiyah), dan Abadi (Masyumi).

Pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno pers Islam saling berebut pengarus dengan pers rival ideologinya, kaum komunis. Presiden Soekarno beberapa kali melakukan tekanan terhadap organisasi-oraganisai Islam yang berdampak pada persnya.

Di zaman Orde Baru, pers Islam mengalami tekanan oleh rezim otoriter Presiden Soeharto. Masa ini adalah masa kelam bagi pers islam. Namun demikian justru pada masa ini Republika lahir oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Pers Islam Saat Ini

Pasca reformasi pers Islam turut menikmati euforia demokrasi. Pers Islam semakin berkembang dan bermunculan. Beberapa diantaranya adalah Pelita, Duta Masyarakat, Republika, Sabili, Ummi, Suara Islam, Hidayatullah, Tarbawi, Noor, Alia, Era Muslim dll. Berkembangnya pers islam pasca reformasi saat ini mejadi pertanda masa renaisance Pers Islam sepanjang sejarahnya.

Euforia demokrasi pada masyarakat juga mempengaruhi pers secara umum. Masyarakat seamkin kritis terhadap pemerintah. Rasa ingin tahu masyarakat terhadap segala sesuatu semakin besar. Pers dalam hal ini berperan penting dalam menyediakan sumber-sumber informasi. Perlahan lahan pers mulai menjadi komoditi perdagangan. Fungsi pers terkapitalisasi dan menyimpang dari idealisme pers sebagai pelayan masyarakat.

Hal ini semakin diperparah dengan keterlibatan Partai Politik dalam independensi pers. Sudah menjadi rahasia umum beberapa media pers menjadi corong propaganda suatu kelompok politik tertentu. Tentu masih teringat bagaimana peran pers pada pemilihan presiden 2014. Perang media mewarnai pers nasional. Kode etik dan etika jurnalistik tidak lagi menjadi ajaran ‘agama’ jurnalisme. Sialnya faham ‘materialisme jurnalistik’ ini juga menjakiti pers islam. Pun ketika salah satu calon telah terpilih, fitnah-fitnah tak berdasar tetap gencar dipublikasikan oleh media-media islam. Lengkap sudah kemurtadan pers islam bersama ‘dosa-dosa’ jurnalistik yang dilakukannya.

Pencerahan

Seyognyanya pers islam dapat menjadi panutan bagi pers ‘bukan islam’. Filosofi pers islam adalah dakwah, jauh dari kepentingan politik dan materialisme. Pers islam wajib menjungjung tinggi  kode etik pers dan syariat islam. Dengan demikian pers islam dapat merebut hati masyarakat dan berkembang dengan pesat. Perkembangan pers islam tentu akan sangat berdampak positif bagi dakwah islam keseluruhan.

Sebagai penutup penulis hendak menambahkan Sembilan Elemen Jurnalisme yang dirumuskan oleh Committtee of Concerned Journalists yang wajib dilakukan oleh seorang jurnalis. Sembilan elemen jurnalisme tersebut yaitu:
1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.
2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat.
3. Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi.
4. Praktisi jurnalisme harus menjaga independensi terhadap sumber berita.
5. Jurnalisme harus menjadi pemantau kekuasaan.
6. Jurnalisme harus menyediakan forum kritik maupun dukungan masyarakat.
7. Jurnalisme harus berupaya keras untuk membuat hal yang penting menarik dan relevan.
8. Jurnalisme harus menyediakan berita komprehensif dan proporsional.
9. Praktisi jurnalisme harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.

Selamat Hari Pers Nasional !!

Rasululloh bersabda : ” katakanlah yang benar walaupun kebenaran itu pahit “.
(HR. Ahmad, At T abrani, Ibnu Hibban dan Al Hakim )

Referensi :
[1] Harsono, Andreas.2010. ‘A9ama’ Saya Adalah Jurnalisme. Penerbit Kanisius. Sleman.
[2] Hidayat, Rahmat. 2011. Apakah yang dimaksud dengan pers Islam?. IAIN Imam Bonjol. Padang.
[3] Kovach, Bill dan Tom Rosenstiel. 2001. Sembilan Elemen Jurnalisme(terj.). Jakarta.
[4] Media massa. [https://id.wikipedia.org/wiki/Media_massa]. Wikipedia.
[5] Menuju Pers Islam yang Profesional. 2015. [ http://www.republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/15/04/10/nml5429-menuju-pers-islam-yang-profesional%5D. Republika.
[6] Rahmawati, Rini Ardiani. 2012. Pers Dalam Perspektif Islam. Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta.
[7] Rahmaniar, Ulfah. 2012. Pers Islam Di Indonesia. Fakultas Dakwah Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam. UIN Sunan Kalijagga. Yogyakarta.
[8] Ramadhan, Shodiq. 2015. Pers Islam ‘Kapiran’. Tabloid SUARA ISLAM edisi 199.
[9] Rizkiyansyah, Beggy. 2014. Lahirnya Pers Islam di Indonesia. [http://jejakislam.net/?p=331]. Jejak Islam Untu Bangsa.
[10] Sidik, Adi Permana. 2015. Berjuanglah Terus Pers Islam!. Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pasundan. Bandung.
[11] Sumbangsih Pers Islam. 2015. [http://www.republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/15/04/10/nml5428-sumbangsih-pers-islam]. Republika.
[12] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. [http://www.pwi.or.id]. Persatuan Wartawan Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s