Jangan Membedakan Mereka, Selamat Hari Internasional Penyandang Cacat

oleh : Zaidah Karomah

Pernahkah kalian (yang tinggal di daerah keputih, kejawan, gebang atau sekitarnya, sukolilo, surabaya) melihat seorang lelaki tua buta berjalan disekitar daerah keputih – kejawan gebang?. Jika belum kuceritakan sedkit saja, kapan hari lalu usai pulang kuliah kudapati bapak tua buta itu berjalan disudut jalan kejawan gebang dengan tertatih mengandalkan tongkat kayu kusam pada satu tangannya, sedang satu tangannya yang lain membawa kantong bekas jajan.sepertinya didalam katong itu terdapat beberapa rupiah yang mungkin diberikan oleh mereka yang merasa iba. Itu hanya asumsiku. Aku tidak tahu benar siapa bapak tua itu, karena aku hanya melihatnya sekilas. Dengan segala keterbatasannya, beliau melewati kerasnya hidup ini. Terlepas dari apakah beliau mengemis atau tidak, satu hal yang perlu dicermati beliau tetap berusaha keluar kedunia luar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dilain tempat, masih didaerah keputih tepatnya di gang 3 E. disalah satu kos mahasiswa ada seorang bapak yang kakinya tidak normal. Hanya satu kaki saja yang berfungsi sehingga beliau harus menggunakan tongkat untuk membantunya bergerak. Beliau adalah sipemilik salah satu kos di gang tersebut. Terlepas apakah keluarga beliau berada atau tidak. Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui. Karena keterbatasan beliau dalam mengendarai motor, beliau berfikir kreatif agar beliau dan orang-oang lain seperti beliau bisa mengendarai motor. Maka terbentuklah bengkel motor untuk para penyandang disabiltas diteras rumah beliau. Tak jarang kudapati rekan-rekan senasib beliau datang kerumahnya untuk memodifiasi motor.

Ikhwah sekalian,

Tak semua manusia dilahirkan dengan kondisi sempurna. Bahkan yang lahir dengan kondisi sempurna saja bisa mengalami suau kecacatan. Cerita diatas adalah sedikit contoh mereka-mereka yang kurang beruntung secara fisik. Sesunguhnya diluar sana sangat banyak orang yang memiliki ketebatasan dalam beraktifitas. Pada hasil survei sosial ekonomi nasional (susenas) 2012 oleh badan pusat satisika Indonesia menyebutkan 2,45 % penduduk Indonsia menyandang disabilitas. Dari angka tersebut sebesar 39,97 % mengalami lebih dari satu jenis keterbatasan. Anggap saja penduduk Indonesia 150 juta, berarti sekitar 3 juta lebih penduduk Indonsia memliki keterbatasan.

Sejatinya angka ini bukan angka yang kecil, namun dikehidupan ini meraka menjadi minortas. Hingga terkadang kebanyakan orang tidak pernah memperhatikan kelompok minoritas ini. Memperhatikan saja jarang apalagi melibatkan mereka dalam aktfitas ekonomi, sosial, pendidikan, politik dan yang lainnya. Pernahkah kalian menjumpai ada seseorang mempekerjakan seorang yang bisu, tuna rungu, cacat?. Apakah mereka yang cacat bisa menikmati pendidikan sampai perguruan tinggi?.

Bukankah mereka yang cacat juga memiliki hak yang sama dengan manusia pada normalnya. Dalam UU nomor 4 tahun 1997 tetang penyadang cacat disebutkan bahwa ‘penyandang cacat ialah setiap orang yang mempunyai kelainan sisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya’. Dan di dalam pasal 5 disebutkan bahwa mereka mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Mereka berhak mendapatkan pendidikan pada semua satuan jalur, jenis,dan jenjang. Mereka berhak mendapat pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuan. Mereka berhak medapat perlakuan yag sama untuk berperan dalam pembangunan dan menikmati hasilnya. Mereka berhak mendapat aksebilitas dalam rangka kemandiriannya. Mereka berhak akan rehabiitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial. Mereka juga memiliki hak yang sam untuk menumbuhkembangkan bakat, kemampuan, dan kehidupan sosialnya, terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga danmasarakat.

Yaa, mereka memiiki hak untuk mendapat perlakukan sosial yang sama seperti halnya manusia normal. Mereka butuh senyuman, uluran tangan, semangat dari kita. Jangan membedakan mereka dalam perlakuan sosial. Mereka memang butuh perlakuan berbeda karena keterbatasan namun bukan perlakuan sosial yang bereda. Berbuatlah baik kepada mereka. Semasa rasulllah hidup, beliau tak pernah absen untuk menyuapi seorang yahudi tua buta. Lalu kita mau bagaimana?

Hari ini, 3 desember merupakan hari internasional penyandang cacat. Ini bukan hanya hari untuk merayakan keberadaan para penyandang cacat. Ini adalah suatu pengingat kita untuk turut serta memberi dukugan untuk meningkatkan martabat hak, dan kesejahtraan para penyandang cacat. Jangan membedakan mereka. Tetap libatkan mereka dalam aspek kehidupan politik, sosial, ekonomi, serta budaya. Karena kita sama, kita adalah manusia yang diciptakan oleh pencipta yang sama.

#SelamatHariInternasionalPenyandangCacat

 

Zaidah Karomah

KAMMI Komisariat Sepuluh Nopember

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s