Menjadi Pahlawan Penyelamat bagi Indonesia

Selama ini secara tidak sadar kita telah terjebak dengan simbol-simbol seremonial tanpa melihat substansi dari peringatan hari besar nasional termasuk peringatan hari Pahlawan ke-69 yang diperingati pada 10 November. Ketika kita tidak melakukan suatu seremonial tertentu dan tabur bunga di makam pahlawan seolah-olah kita telah berdosa. Ada yang terasa berbeda jika kita belum melakukan kedua hal tersebut.
Hal demikian bukan berarti kedua hal itu tidak boleh dilakukan atau kita menjadi antipati dengan tabur bunga dan “ogah” berpanas-panas mengikuti upacara atau mengheningkan cipta, tetapi ada hal yang lebih penting yang sepertinya belum dipahami masyarakat dan pemerintah saat ini. Perjuangan para pahlwan dan para syuhada yang telah memperjuangkan kemerdekaan terlalu murah jika hanya dihargai dengan penghargaan-penghargaan yang justru membuat tujuan murni mereka luntur karena perjuangan yang mereka lakukan sesungguhnya bukan untuk hal tersebut, melainkan perjuangan untuk merebut marwah bangsa ini sebagai suatu negara yang merdeka dari segala macam bentuk penjajahan, tidak hanya berbentuk penjajahan fisik.
Namun, apa yang terjadi dengan negara kita saat ini. Bukan meradang, tapi inilah fenomena yang kita jumpai pada berbagai realitas kehidupan yang tak pernah mengenal kata lelah. Hari ini cukup banyak manusia yang ingin disebut pahlawan padahal apa yang mereka perbuat masih jauh dari nilai-nilai perjuangan kepahlawanan karena tidak ada keikhlasan dalam perjuangan yang mereka lakukan. Mereka hanya menginginkan kalung emas atau penghargaan-penghargaan serupa lainnya yang kemudian mampu mengangkat mereka sebagai tokoh entah itu dalam bidang politik, pendidikan, budaya maupun bidang-bidang yang lainnya.
Ini bukanlah mentalitas seorang pahlawan, melainkan mentalitas pecundang yang kalah perang dan berusaha memperbaiki citranya melalui perubahan skenario cerita yang bertolak belakang dengan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Tapi biarkanlah orang-orang yang lebih mementingkan prestise itu sadar dengan sendirinya bahwa perjuangan adalah kata yang tak kenal lelah dan tak kenal dengan kata pamrih, tanpa dinodai bercak hitam sedikitpun di hati ini.
Mari kita kembali kepada soal pemaknaan hari pahlawan. Sebenarnya cukup banyak makna yang dapat dipetik dari peringatan ini seperti kegigihan, kejujuran, perjuangan tanpa pamrih, keoptimisan, kepiawaian dan hal-hal lainnya yang terdapat dalam spirit jiwa kepahlawanan. Dilihat dari sudut pandang kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat kita, setidaknya ada dua kata kunci yang dapat ditangkap setelah berpikir lama hingga kening mengkerut seperti jeruk purut.
Dua kata kunci itu adalah kematian dan perjuangan. Sebenarnya apa yang kita cari dan kejar-kejar dalam hidup ini toh pada akhirnya kita akan mengalami suatu peristiwa yang bernama kematian. Namun, apakah kita harus pasrah dan menunggu datangnya kematian? Jelas, pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang tepat. Selang waktu dari kehidupan menuju kematian itulah peluang yang Allah berikan kepada umatnya untuk berjuang.
Man Jadda wa Jadda : Sebuah Perjuangan dalam Hidup
Ini bukan slogan atau motto dari kampanye seorang caleg yang terpampang hampir di setiap ruas jalan. Apapun mottonya, secara realitas harus kita akui bahwa hidup itu adalah perjuangan. Berjuang untuk hidup. Berjuang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Berjuang untuk lingkungan masyarakat. Berjuang untuk daerah. Hingga ke fase yang paling akhir yaitu berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa yang belum bebas secara utuh dari intervensi bangsa asing.
Tetesan darah juang dan tangisan air mata para pahlawan dulu kala dalam menahan rasa sakit hendaknya menjadikan motivasi bagi kita untuk terus eksis menjadi pejuang dalam memberangus “penjajah” yang sepanjang sejarah tidak akan pernah mau tunduk dan patuh terhadap negeri jajahannya.
Kini bentuk penjajahan seperti itu sudah tidak akan kita temukan lagi, tetapi aksi jajah-menjajah ternyata bisa berpenetrasi ke dalam bentuk yang lebih sangat moderat lagi. Bahkan, penjajah yang paling ganas adalah penjajah yang sebenarnya datang dari dalam negeri kita sendiri seperti koruptor yang tak pernah merasa puas dengan harta yang diperolehnya, politikus atau anggota dewan yang lebih doyan bermain “proyek langganan” daripada bekerja untuk rakyat.
Kita membutuhkan pahlawan-pahlawan baru atau pahlawan selanjutnya yang mampu memberangus semua hal ini karena secara sadar atau tidak saat ini kita sebenarnya telah “dijajah” oleh saudara kita sendiri yang masih bergabung dalam NKRI. Tetapi mau tidak mau hal tersebut merupakan fenomena kehidupan yang penuh warna-warni yang akan terus mengikuti jejak langkah kehidupan kita. Melalui momentum hari pahlawan ini kita sangat berharap adanya pahlawan-pahlawan selanjutnya yang mampu memegang dan menjalankan estafet perubahan sehingga mereka dapat menjadi pelopor kebangkitan bagi bangsa ini.

#Aku10November

Ditulis oleh : Rodhi Kelvianto
Ketua Dept. Kebijakan Publik KAMMI 1011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s