DISKUSI 1 : Pemimpin itu?

 

Kalau berbicara Pemimpin, sepertinya tidak akan ada habisnya. Bahkan kriteria pemimpin yang diinginkan antara orang yang satu berbeda dengan orang yang lainnya. Tapi pada intinya semua berharap agar sosok pemimpin adalah sosok yang nantinya dapat membawa kemajuan bagi instansi yang dipimpinnya. Dalam diskusi kajian strategis 1 September 2012 kemarin, beberapa orang menyatakan definisi pemimpin menurut versinya masing-masing.

Menurut Dinar, sekretaris umum KAMMI 1011, pemimpin itu adalah pengayom, tentunya dia bisa menjadi teladan bagi orang2 yang dimimpin dan dia juga peka dengan kondisi bawahannya dan kondisi lingkunganannya. Intinya adalah Pengayom dan peka. Sedangkan menurut Ika yang menjabat sebagai sekretaris departemen kaderisasi ini menyatakan bahwa pemimpin itu bukan jabatan, tapi pemimpin adalah peran. Dan pemimpin adalah peran terpenting dalam sebuah organisasi. Punya visi besar, bukan untuk dirinya tapi untuk orang banyak, teladan, tidak hanya bisa menyuruh tapi bisa menerima kritik dan saran di bawahannya, pemimpin itu harus bersifat tegas dan mampu memberi keputusan di saat banyak pertimbangan. Adapun menurut  Yani, salah seorang staf departemen Humas menyatakan bahwa pemimpin itu adalah pelayan umat, punya orang-orang yang dipimpin, memakmurkan orang-orang yang dipimpin dengan memakmurkan mereka melalui pemberian amanah yang tepat sesuai dengan bidangnya. Peserta diskusi lainnya menyatakan bahwa pemimpin itu yang jelas harus dapat menjadi teladan, kompeten dan juga komitmen. Mereka adalah orang yang bisa memberi arahan dan memberikan kemajuan bagi lembaganya. Ada juga yang memberi tambahan bahwa pemimpin itu harus berafiliasi terhadap kebaikan dan setidaknya tidak menghambat dakwah di kampus. Juga segala apa yang dikatakan, juga harus disertai tindakan, tidak sebatas teori dan harus lebih sering  turun ke bawah (grassroot).

Lantas sebenarnya sosok pemimpin seperti apakah menurut KAMMI? Menurut Decka Ginanjar Ketua Umum Daerah Surabaya (Alumnus IAIN Sunan Ampel), kriteria sosok pemimpin  versi KAMMI adalah muslim negarawan, dan jika berbicara terkait sosok pemimpin pada skala kampus, maka nilai-nilai muslim negarawan dibreak down lagi, misalnya :

  1. Basis ideologi islam yang mengakar, hal wajib yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, karena ideologi islam adalah hal yang paling mendasar yang harus dimiliki pemimpin.
  2. Memiliki basis ilmu pengetahuan yang mapan, mengetahui geografis, strategis dan kondisi kampus,
  3. Idealis dan konsisten
  4. Menjadi bagian dari solusi bukan bagian dari masalah
  5. Perekat kebaikan

Namun, adakah sosok pemimpin yang diharapkan dengan kriteria-kriteria yang telah disebutkan kini? Beberapa peserta diskusi menyatakan bahwa mungkin sebenarnya memang ada, namun kebaikannya itu ditunggangi oleh kepentingan golongan tertentu yang hanya menguntungkan segelintir orang, atau menguntungkan  pemilik modal selaku penyokong dana misalnya. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa pengusahalah yang kini menguasai pasar global, yang mampu memberi andil besar dalam dinamika ekonomi bahkan seluruh sektor di negeri ini, bahkan mungkin dunia. Seharusnya kebaikan itu didukung dengan adanya simbiosis yang saling menguntungkan antara pemerintah, pemilik modal, dan rakyat.

Mengenai kasus SARA yang beberapa waktu lalu sempat menjadi perbincangan dalam pilkada jakarta, dan juga gubernur kalimantan Barat yang dipegang oleh seorang non muslim, serta beberapa fenomena ketidakpercayaan sesama muslim sendiri terhadap pemimpin yang seagama kini sudah kian marak. Pasalnya, masyarakat kini sudah kurang mempertimbangkan faktor ideologi itu sendiri, dan yang dilihat adalah relevansinya, seperti yang pernah dikatakan oleh Anis Matta dalam sebuah acara di Metro TV bertajuk, “Nasib parpol islam 2014”. Oleh karena itu, tidak heran jika masyarakat islam sendiri kini pun lebih memilih pemimpin yang berbeda keyakinan namun lebih dapat dipercaya daripada pemimpin muslim namun kurang amanah. Padahal Allah sendiri berfirman dalam Surah An Nisa’ ayat 144,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?”

Dan juga terdapat celetukan ‘agak’ sensasional yang pernah disampaikan oleh Ratna Sarampaet pada masa pilkada Jakarta ini, dia menyatakan bahwa “kita memilih pemimpin, bukan memilih ulama”. Sebuah kalimat yang sangat mencerminkan sekularisme. Ketika pemimpin-pemimpin muslim sudah tidak mengamalkan apa yang diajarkan oleh agama ini, maka tunggulah waktunya. Dan  seyogyanya hal ini menjadi cambukan keras bagi kaum muslim untuk berbenah dan intropeksi diri, jangan sampai agama ini dikenal buruk karena keberadaan kita terutama para pemegang kekuasaan yang mengaku dirinya muslim.

Berikut tulisan yang dikutip dari Ibnu Taimiyah dalam bukunya, Siyasah Syar’iyah

Wajib atas pemimpin supaya mengangkat orang yang paling layak untuk semua tugas-tugas umat islam. Nabi SAW. Bersabda,

“Barangsiapa memimpin sesuatu dari urusan umat islam, lalu ia mengangkat seseorang padahal ia melihat ada orang yang lebih layaak daripadanya, maka ia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.”  (Al Hakim dalam Al Mustadrak)

Dalam riwayat lain,

“Barangsiapa mengangkat seseorang pada suatu jabatan padahal dia melihat pada jabatan itu ada orang lain yang lebih diridhoi Allah daripadanya, maka dia telah mengkhianati Allah dan RasulNya serta kaum beriman.” (H.R. Al Hakim dalam Al Mustadrak)

Wajib atas setiap orang yang memimpin urusan umat islam, adalah orang yang paling kompeten untuk jabatan tersebut supaya mempergunakan dan memperkerjakan untuk segala yang berada di bawah kekuasaannya dalam segala posisi. Ia tidak boleh mendahulukan seseorang karena ia meminta jabatan, atau lebih dahulu meinta, bahkan itu menjadi faktor untuk ditolak. Karena dalam hadits shahih dari Nabi SAW., disebutkan : bahwa suatu kaum masuk menghadap beliau kemudian mereka meminta jabatan kepada beliau, maka beliau bersabda :

sesungguhnya kami tidak menyerahkan urusan kami ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula pada orang yang berambisi mendapatkannya.” (Al Bukhari dalam Al Ahkam)

Beliau berkata kepada Abdurrahman bin Samurah, “wahai Abdurrahman bin Samurrah, janganlah meminta jabatan. Sebab jika kamu diberi jabatan itu dengan meminta, maka bebannya diberikan kepadamu, sedangkan jika kamu diberi jabatan tanpa meminta minta niscaya kamu akan ditolong.” (HR Al Bukhari dan Muslim dalam Shahihain)

Beliau bersabda :

Barangsiapa yang mencari jabatan qadhi (hakim) dan meminta bantuan supaya memperolehnya, maka semua itu diserahkan kepadanya; dan barangsiapa yang tidak meminta jabatan hakim dan tidak meminta bantuan supaya memperoleh jabatan itu, maka Allah menurunkan kepadanya malaikat yang menuntun langkahnya. “ (HR. Ahlu Sunan)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (Q.S. Al Anfal 27-28)

Sesungguhnya seseorang, karena kecintaannya kepada anaknya atau kepada hamba sahaya yang dibebaskannya, kadangkala mengutamakannya dari yang lain untuk menduduki jabatan, atau memberikannya kepada orang yang tidak berhak. Dengan demikian ia telah mengkhianati amanat padanya yang dipercayakan. Demikian pula kadangkala ia lebih mengutamakannyaa dengan menambah hartanya atau penjagaannya, dengan cara mengambil bagian yang bukan haknya, atau menerima suap dari orang yang menginginkan suatu jabatan. Dengaan demikian ia telah mengkhianati Allah dan Rasulnya serta mengkhianati amanatnya.

Kekuatan dan keamanahan seseorang jarang berkumpul dalam seorang manusia. Jika memilih dua orang, salah satunya lebih amanah dan yang satu lebih besar kekuatannya (lebih ahli), maka pilihlah yang lebih manfaat untuk jabatan itu dan lebih sedikit mudharatnya. Dalam kepemimpinan perang lebih didahulukan orang yang lebih kuat lagi berani meski, meskipun terdapat kedurhakaan dalam dirinya, daripada orang yang amanah tapi ia lemah. Karena itu Nabi mempergunakan Khalid bin Walid untuk memimpin perang sejak ia masuk islam. Beliau bersabda :

“Khalid adalah pedang Allah yang dihunuskan terhadap orang-orang musyrik” (At-Tirmidzi dalam Al Manaqib)

Meskipun kadangkala dia melakukan suatu tindakan yang diingkari oleh nabi, sehingga beliau suatu kali pernah berdiri kemudian mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, “Ya Allah, seseungguhnya aku berlepas diri kepadaMu dari apa yang diperbuat Khalid” (Al Bukhari dalam Al Ahkam).

Lantas bagaaimana kita dapat mengetahui kompetensi seseorang?

Bahasan terpenting dalam masalah ini adalah mengetahui siapa yang lebih layak atau paling berkompeten. Ini hanya bisa terlaksana dengan mengetahui tujuan suatu jabatan dan jalan mengantarkannya kepada tujuan itu. Ketika kebanyakan para raja lebih cenderung menyenangi dunia dan bukan akhirat, maka mereka mendahulukan orang yang dapat membantu mereka untuk mencapai tujuan yang dimaksud untuk mengisi jabatan tersebut. Dan orang yang mencari kekuasaan bagi dirinya akan mengutamakan siapa yang dapat melangsungkan kekuasaannya.

Allah berfirman ketika memerintahkan untuk berjihad,

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (Al Anfal : 39)

Pernah ditanyakan kepada nabi, “wahai Rasulullah, seseorang berperang karena keberanian, seseorang berperang karena pamor, dan seseorang berperang karena riya’, manakah yang berperang di jalan Allah? Beliau menjawab, “Barangsiapa berperang supaya kalimat Allah yang tertinggi, maka dia berada di jalan Allah.” (H.R. Al Bukhari dan Muslim dalam shahihahin)

Tujuannya adalah agar agama seluruhnya milik Allah dan agar kalimat Allahlah yang tertinggi. “Kalimat Allah” adalah istilah yang menyeluruh untuk kalimat-kalimatNya yang terhimpun dalam kitab suciNya.

Wallahu a’lam bis showab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s