Peringatan bagi penguasa (1) : Jumat Mubarok, Jadikanlah jumat dalam seminggu sebagai hari untuk mengabdi kepada Allah, agar ia mengampuni dosa-dosa enam hari lainnya.

Serial bedah buku : Peringatan bagi penguasa, tentang Kepribadian Seorang Penguasa, oleh : Imam Al-Ghazali

Sebuah surat nasihat yang dilayangkan untuk Raja pada dinasti Saljuk, Muhammad Ibnu Maliksyah, oleh seorang mantan Guru besar Universitas Nizhamiyah Baghdad, Al-Ghazali.

Firman Allah, “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baikseperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,” (Q.S. Ibrahim : 24). Jika akarnya tidak kuat oleh iman dan cabangnya tidak sempurna, pohon itu segera diterpa angin kematian atau kerusakan. Akhirnya akar itu tercerabut dan pohonnya roboh. Jika demikian, Na’udzubillah, ia akan mati tanpa iman dan menghadap hadirat Tuhan tanpa membawa kebajikan.

Paduka raja yang terhormat. Ketahuilah, batang pohon yang tadi itu memiliki sepuluh akar dan sepuluh cabang. Akar terkuat adalah keyakinan di dada. Sedangkan cabangnya adalah ibadah. Saya harap paduka menerima baik komentar dan penjelasan 10 akar dan cabang ini dari majelis tinggi, agar paduka dapat menumbuhsuburkan pohon itu.

Paduka bisa melakukannya dengan meluangkan hari tertentu dalam seminggu khusus untuk beribadah kepada Allah dan melakukan amal akhirat. Itulah Jumat, sebagai hari raya umat islam. Pada hari itu terdapat saat mulia. Siapa bermohon kepada Allah pada jam itu dengan niat tulus dan di tempat suci, Allah akan memenuhi permintaannya.

Adakah baginda sulit meluangkan waktu sehari dalam seminggu untuk berkhidmat kepada Allah. Ini semisal paduka memiliki seorang hamba sahaya yaang paduka suruh meluangkan hari khusus dalam seminggu untuk berkhidmat pada paduka, agar ia dapat menyempurnakan kekurangannya dalam enam hari lainnya. Tapi ia membangkang perintah baginda. Bagaimanakah nasib hamba sahaya itu di mata baginda. Padahal ia bukan “hamba” dalam arti sesungguhnya. Ia hanya hamba dalam arti metaforis.

Sementara baginda sendiri adalah hamba Allah yang sesungguhnya. Bagaimanakah baginda dapat menerima dari baginda sendiri sesuatu yang tak dapat baginda terima dari hamba sahayanya?

Pada malam hari jumat itu, baginda berniat puasa. Lebih baik lagi, jika Kamisnya baginda juga berpuasa. Bangunlah pagi-pagi di hari jumat itu, dan langsung mandi. Setelah itu, baginda mengenakan pakaian dengan tiga kriteria, yaitu pakaiaan yang halal, bukan dari bahan sutera, tapi dapat digunakan untuk solat.

Lakukan solat subuh berjamaah. Janganlah baginda berbicara kecuali setelah matahari terbit. Tetapkan muka ke arah kiblat. Ambillah tasbih, dan bacalah La ilaha illa Allah, Muhammad rasul Allah, seribu kali. Begitu matahari terbit, suruh orang membacakan buku nasihat ini kepada baginda. Demikian pula pada jumat, agar baginda dapat mengingat dan menghafalnya.

Bila sang pembaca selesai mendiktekan buku ini kepada baginda, lakukanlah solat dhuha empat rakaat dan bacalah tasbih. Pahala solat itu besar, terutama hari jumat. Selain itu, setiap baginda berada di singgasana atau sedang sendirian, bacalah solawat tanpa henti. Jika baginda mampu, keluarkan sedekah hari itu. Jadikanlah jumat dalam seminggu sebagai hari untuk mengabdi kepada Allah, agar ia mengampuni dosa-dosa baginda enam hari lainnya.

Selamat memetik hikmah..

– Refleksi 67 tahun Kemerdekaan Indonesia-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s