Liburan Gratis Gara-Gara Lomba Sosiopreneur

Kampus ITS, ITS Online – Waktu tak bisa membatasi prestasi. Meskipun sedikit waktu yang dimiliki, jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh hasilnya tetap maksimal. Paradigma ini dipegang tiga mahasiswa ITS, Yufita Eftiana, Ika Yunidiawati, dan Agus Budi Raharjo. Mereka mampu menciptakan sebuah karya tulis mengesankan dalam waktu empat hari. Bahkan karya mereka menjadi salah satu yang terbaik dalam Sociopreneur Competition di ITB Fair 2012.

Kesuksesan tiga mahasiswa asal Magetan tersebut berawal dari niat untuk jalan-jalan ke luar kota saat liburan semester awal. ”Kami bertiga ingin mbolang (pergi berpetualang, Red) bersama-sama secara gratis,” tegas Ika, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2009.

Menyikapi hasrat tersebut, mereka pun mencari event yang tepat. Ternyata, mereka menemukan informasi mengenai Sociopreneur Competition di ITB Fair.  Dalam event dua tahunan ITB itu, peserta harus bisa menuangkan ide-ide kreatif mengenai kewirausahaan berbasis pengabdian masyarakat dalam sebuah tulisan. Para finalis harus melakukan presentasi di Bandung. Merekapun sepakat untuk mengikutinya.

Tema yang diangkat oleh ketiga mahasiswa ITS tersebut adalah Trading House Kampung Kenjeran, yaitu pola pemasaran kripik ikan masyarakat Kenjeran. Hal ini didasarkan pada pengamatan mereka terhadap masyarakat pengolah ikan di daerah tersebut.

Dalam proses produksi, masyarakat Kenjeran tidak memperhatikan aspek kesehatan sehingga kualitas kripik ikan buruk. ”Mereka menggoreng ikan dengan minyak yang sudah berulang kali digunakan hingga warnanya hitam,” terang Yufita. Tak hanya itu, proses pemasarannya pun kurang sempurna. ”Mereka cenderung menunggu pembeli datang,” jelasnya lagi.

Mahasiswa jurusan Kimia tersebut menambahkan, dibalik permasalahan tersebut, sebanrnya pengolahan kripik masyarakat Kenjeran memiliki sebuah potensi yang besar. Hal ini karena sumber daya ikan yang begitu banyak di wilayah pantai Kenjeran. Namun potensi ini hanya bisa dimaksimalkan bila dikelola dengan sungguh-sungguh disertai proses yang benar.

Untuk mencari solusi dari problem-problem tersebut, tiga sekawan ini membaginya menjadi tiga aspek. Aspek pengolahan diserahkan kepada Yufita, pemasaran ditugaskan kepada Ika, dan pengepakan dibebankan kepada Agus.

Yufita melanjutkan, dengan kerja sama dan koordinasi yang baik dari setiap anggota tim, dalam waktu empat hari karya tulis tersebut selesai disusun. ”Saat mengerjakan karya tulis ini bertepatan dengan ujian akhir semester,” terangnya.

Tak pelak, seluruh jerih payah tim tersebut terbayar tuntas. Karya mereka menyisihkan 129 karya tulis lain dan masuk dalam sepuluh besar. Keinginan untuk liburan gratis ke luar akhirnya kota terpenuhi.

Selama dua hari pertama di Bandung mereka mengikuti seminar tentang sociopreneurship. Ini dilanjutkan dengan presentasi karya tulis. Ternyata, mereka mampu menjadi salah satu dari tiga tim terbaik dan berhak membawa pulang uang senilai Rp 15 juta.

Yufita dan timnya berharap, ITS dapat menggelar kompetisi sosiopreneur juga. ”Di perguruan tinggi kawasan Indonesia barat, sosiopreneur sudah marak disuarakan, namun di ITS hanya beberapa mahasiswa saja yang tahu,” ujarnya.

Pengalaman yang Mengubah Pandangan

Banyak pengalaman yang tak terlupakan bagi ketiga mahasiswa tersebut. ”Mindset kami menjadi terbuka tentang pentingnya sosiopreneur,” jelas Ika. Salah satunya, pelatihan tersebut membuat mereka paham perbedaan antara social development dan social entrepreneur . ”Social development adalah pengabdian masyarakat saja, namun, kalau social entrepreneur adalah berwirausaha sekaligus mengabdi pada masyarakat juga,” jelasnya.

Yufita memiliki kesan spesial tersendiri. ”Ternyata, kemampuan kecil yang kita miliki akan sangat bermanfaat bagi orang lain jika mau mengamalkannya,” jelasnya. Menurutnya, paradigma tersebut muncul ketika mendengar sosok Dr Ir Robert Manurung M Eng yang melakukan penelitian terhadap terasi. Bagi para akademisi lainnya, hal tersebut tidak penting. Namun, melalui penelitian kecil tersebut, Robert berhasil menjadi pengekspor terasi terbanyak ke Brazil dengan kualitas terbaik.

Rencananya, Yufita sendiri akan coba memanfaatkan ilmu yang ia dapatkan di ITS. Ia berencana untuk membantu masyarakat Kenjeran memperbaiki kesehatan makanan mereka. ”Saya akan melakukan penelitian demi mencari solusi menurunkan kadar logam berat yang terkandung dalam ikan-ikan di Kenjeran,” pungkasnya.(ali/lis)

Sumber : http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=9735

NB :

* Ika Yunidiawati (sekdept kaderisasi KAMMI 1011)
* Yufita Eftiana (sekretaris kastrat internal KAMMI 1011)

Selamat, semoga bermanfaat dan akan lebih banyak lagi kader-kader KAMMI yang berprestasi

One thought on “Liburan Gratis Gara-Gara Lomba Sosiopreneur”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s