Pemuda : Sumpah!

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

83 tahun sudah Sumpah Pemuda telah berlalu dikumandangkan untuk yang pertama, bahwasannya kita ini adalah satu, satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, yang kesemuanya bermuara pada Indonesia. Berapa luas bentang Indonesia menghampar dari sabang hingga merauke, itulah Indonesia. Berapa ratus juta merahnya darah serta putihnya tulang terlahir di bumi khatulistiwa, itulah Indonesia. Dan berapa ratus juta susun kata yang menebar kekhasan ucapan kita, itulah Indonesia.

Dan 83 tahun kemudian dari yang pertama, adakah hegemoni Sumpah Pemuda masih ada ketika jerit tangis hati rakyat Papua menginginkan cerai dari Indonesia. Juga semangatnya masih adakah menyala-nyal ketika harapan untuk bangkit itu diwarnai dengan pemandangan sudut-sudut kesengsaraan rakyat jelata dibawah polemik keberadaan KPK. Bukan untuk dipahat dalam prasasti sejarah mereka yang telah memperjuangkan negeri ini. Bahwasannya darah dan nyawa mereka adalah untuk Indonesia yang seutuhnya, yang merdeka dan sejahtera. Namun mengapa setelah tahun demi tahun kita tetap sama, kemiskinan di mana-mana, kebodohan meraja lela. Adakah kita termasuk bangsa yang merugi ?

Betapa kita seharusnya bersyukur dianugrahkan bumi yang begitu kaya ini, dengan keindahannya, dengan penghasilannya, kesemuanya ada di Indonesia. Namun betapa kita harus beristighfar lebih banyak melihat berkubik-kubik kekayaan itu telah dimakan oleh rakusnya tamu-tamu kita, kita telah terjajah di tanah sendiri. Siapakah yang bertanggungjwab terhadap semua ini. Ada pada siapa tanggungjawab itu ? Teringat ucapan salah seorang teman, “Jangan sampai suatu saat nanti kita bercerita kepada anak-cucu kita, bahwa di tanah ini pernah berdiri sebuah taman keindahan bernama Indonesia!”.

Kepadamu Indonesia, sumpah itu masih tersemat.
Kepadamu pula Indonesia, sumpah itu masih melekat.
Bahwa kita bertanah air satu!
Kita berbangsa satu!
Kita berbahasa satu!
Indonesia!

Selamat memperingati sumpah Pemuda 28 Oktober 1928!

*Anas Fauzi

One thought on “Pemuda : Sumpah!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s