Refleksi Kemerdekaan RI : Mari Kita Menjadi Negara Pembelajar

Oleh : Anas Fauzi (anasforstories@yahoo.com) 

Terulang, tiap memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, yang terus terungkap adalah betapa setiap memperingati kemerdekaan kita hanya bisa menyebutkan satu per satu kebobrokan negara ini. Rasanya lelah untuk “menerima” keadaan bangsa ini, yang tiap waktu terus berkutat pada persoalan-persoalan yang hanya terulang dan terus terulang pada tempatnya, kapan kita menjadi negara pembelajar?

Tiap tahun kita selalu memperingati hari kemerdekaan indonesia, riuh kegembiraan pun menggema di bumi khatulistiwa. Ada yang berbeda dengan hari-hari yang lain, bendera merah putih banyak terpasang di sudut-sudut kota dan desa. Kita selalu menyaksikan kebanggaan warga negara yang menghitung usia negara bertambah tua. Kita pun bergembira, mengingat bagaimana perjuangan ’45 menuntaskan kemerdekaan yang diimpi-impikan sebelumnya. Ini wajar dan ini normal. Selalu, saat-saat yang membahagiakan pasti akan selalu diingat dan kadang juga terus diperingati.

Namun di sini rasanya saya harus kembali mengulang pertanyaan yang tiap tahun terus dikumandangkan, benarkah kita sudah merdeka ? Yakni merdeka dalam arti sebenarnya. Jika didefinisikan, saya mendefinisikan merdeka sebagai bentuk kebebasan dari segala bentuk penjajahan, baik itu secara fisik, secara pemikiran, politik, ekonomi, ataupun budaya. Jika ditarik dari pendefinisian tersebut, berarti kini 66 tahun sudah kita telah merdeka dari bentuk penjajahan fisik, tapi sekarang tidak untuk yang lain. Kita masih terjajah dan belum merdeka.

Kita menyaksikan, bagaimana ribuan warga negara kita telah terjajah di dalam negaranya sendiri dengan harus keluar negeri untuk mencari penghidupan untuknya dan keluarganya. Kita juga telah menyaksikan, bagaimana pasar-pasar tradisional milik rakyat indonesia telah terbunuh akibat adanya penjajahan minimarket-minimarket yang menjamur merajalela. Kita pun telah menyaksikan, ribuan barang datang dari luar negeri menyerbu pasar-pasar dalam negeri dengan harga lebih murah, dengan penampilan lebih menarik, mematikan unit usaha dalam negeri sendiri. Lantas di mana letak kesejahteraan itu bagi rakyat?

Kita telah menyaksikan, freesex, narkoba, pornografi, dugem, telah menjadi konsumsi dalam negeri. Kita pun menyaksikan lagi, bagaimana justru “jasa” penyediaan pornografi dan sex bebas telah menjadi lahan tersendiri di negeri ini. Bukan kita perlu mencari di suatu tempat, tapi melalu televisi, radio, komik, internet, semua itu disediakan secara cuma-cuma untuk dinikmati. Lantas di mana karakter kita sebagai bangsa yang besar, bangsa yang santun dan berbudaya, bangsa indonesia?

Kita juga menyaksikan, bagaimana posisi negara besar ini di mata dunia. tidak usah jauh-jauh, dengan negara tetangga sendiri. Bagaiamana harkat martabat bangsa ini direndahkan ketika “dicurinya” harta kekayaan kita di bidang kebudayaan, perang ? Kita tak berani, militer pertahanan kita tidak kuat. posisi tawar ? “Ihhhh, PD amat geto”, jawabnya.

Tentunya kita berharap, negara ini mengalami perubahan. Kita tidak ingin negara ini menjadi negara keledai yang tercebur dalam lubang untuk ke-2 kalinya. Harusnya momentum ini adalah momentum perbaikan bangsa, bagaimana kita seharusnya menggunakan momentum ini untuk merenungkan kembali bagaimana kondisi bangsa 66 tahun yang lalu dengan yang sekarang, bahwasannya semangat yang dibawa oleh para pejuang kemerdekaan adalah semangat untuk merdeka dalam arti yang sebenarnya, bebas dari segala bentuk penjajahan.

Indonesia kini telah menginjak usia ke-66 dalam perjalan kemerdekaannya, bukan usia yang muda lagi untuk bangsa yang besar ini. Saatnya kita menjadi pembelajar, sehingga kesalahan-kekurangan pada masa yang telah lampau. Tidak seharusnya lagi kita menghitung-hitung atau mendaftar berapa banyak kesalahan-kekuraangan tersebut tiap peringatan 17 Agustus. Jikalau negara ini mau menjadi negara pembelajar, negara ini akan bangkit dari keterpurukan. Merdeka !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s