egypt-eramuslim

Gemuruh Timur Tengah

Analisis: Hamid Awaludin (Dubes RI untuk Rusia)


Awal tahun 2011 ini adalah guntur politik di Timur Tengah-Afrika. Kali ini, bukan lantaran ulah Israel, tetapi gemuruh internal di sejumlah negara Timur Tengah sendiri. Bermula dari kebangkitan rakyat Tunisia menurunkan secara paksa Presiden mereka, Zine El Abidine Ben Ali yang telah berkuasa selama 23 tahun.
Seolah irama gendang yang diikuti oleh penari, Aljazair pun ikut menggemuruh. Rakyat secara massif turun ke jalan meminta pertanggungjawaban pemerintah atas kehidupan mereka yang kian terpuruk. Lalu, rakyat Jordania melakukan hal yang sama: menuntut pertanggungjawaban Raja Abdullah atas krisis ekonomi yang melilit rakyatnya. Konsekuensinya, Raja Abdullah membubarkan kabinetnya.
Rakyat Yaman, seolah tak mau ketinggalan. Mereka juga turun ke jalan menuntut hal yang sama: perbaikan ekonomi rakyat yang kian mencekik. Kini, secara mencolok dan menyita perhatian dunia, adalah gemuruh rakyat Mesir. Sudah ratusan orang meninggal dan ribuan lainnya terluka karena bentrokan antara pasukan keamanan Husni Mubarak dan rakyat. Gerakan dua juta orang, menyemut, menuntut Mubarak hengkang dari singgasananya, sekarang juga.
Mobil-mobil tank, penyiram air dan gas mata, dikerahkan oleh pasukan keamanan untuk meredakan situasi. Tak ada yang mempan. Husni Mubarak langsung membubarkan pemerintahannya dan membentuk pemerintahan baru, untuk membujuk hati rakyat Mesir. Tetapi, semua itu tidak mempan. Rakyat Mesir menuntut Husni Mubarak turun dari takhta kepresidenan yang telah dipegangnya selama tiga dekade tanpa tantangan.
Krisis politik Mesir ini sama persis dengan keadaan Indonesia menjelang turunnya rezim Soeharto di tahun 1998. Husni Mubarak baru saja menyelesaikan perjalanannya dari Jerman, lalu disambut demonstrasi besar-besaran yang menuntut pengunduran dirinya. Soeharto baru saja menginjakkan kakinya di tanah air setelah melakukan perjalanan dari Mesir, demonstrasi menyambutnya, menuntut pengunduran dirinya sebagai Presiden.
Secara keseluruhan, gemuruh politik Timur Tengah ini, mengingatkan kita dengan jelas dua dekade silam. Dinamo perubahan saat itu, mulai di Rusia, lalu menyebar ke seluruh Eropa Timur yang pada ahirnya merontokkan keperkasaan Komunis. Di sini jelas ada faktor snowball effect. Kondisi Timur Tengah sekarang ini, begitu juga. Unsur efek bola salju tak bisa dihindari.
Mengapa Menggemuruh?
Pelatuk gerakan protes rakyat di sejumlah negara Timur Tengah di atas, ditarik oleh tiga agenda besar. Pertama, kondisi dan beban ekonomi rakyat yang kian mendera. Daya beli yang kian menurun, bersamaan dengan kian tingginya harga-harga. Di saat yang sama, tingkat pengangguran semakin membengkak.
Kedua, rakyat menuntut pengelolaan negara yang transparan untuk semua hal. Mereka meminta kepala negara mereka secara jujur mengatakan apa adanya. Bukan dengan menyembunyikan berbagai hal dengan retorika dan kamuflase. Mereka bosan dengan janji dan muak dengan iming-imingan fatamorgana.
Ketiga, mereka menuntut demokrasi dan kebebasan. Mereka ingin sekali menghirup udara segar, yang bebas dari tekanan dan terhindar dari himpitan tangan besi rezim penguasa. Bersamaan dengan itu, rakyat menuntut adanya rotasi kepemimpinan yang dilakukan secara terbuka dan jujur.
Ketiga faktor ini juga yang menjadi tema sentral gelindingan perubahan di Eropa Timur dua dekade silam. Ketiga faktor ini, semua hadir di negara-negara yang bergolak itu, dan menjadi common platform perjuangan. Di sinilah faktor efek bola salju menjadi niscaya.
Bila kita menyaksikan konstelasi politik Timur Tengah hari-hari ini, Mesir yang paling riuh. Jumlah korban sangat banyak dan kondisi sosial yang serba kaos dibanding negara-negara lainnya yang menggemuruh. Ini bisa dimaklumi karena kepemimpinan Husni Mubarak memang sudah lama jadi sorotan rakyat Mesir dan dunia internasional. Prinsip-prinsip demokrasi dinilai tidak hadir di negeri piramida itu. Di atas segalanya, kondisi ekonomi yang kian hari kian membelit, membuat rakyat amat marah dan tak kuat lagi bersama pemimpin mereka.
Efek bola salju ini menggelinding terus. Tidak hanya sebatas wilayah Timur Tengah. Gemuruh rakyat Tunisia, amuk rakyat Aljazair, Yaman, Yordania dan guntur rakyat Mesir, akan menjalar ke berbagai negara, terutama yang dililit oleh beban ekonomi yang menghimpit. Amuk politik rakyat yang menuntut pendongkelan kepala pemerintahan, tidak lagi hanya dipicu oleh masalah perilaku kediktatoran atau bukan, tetapi juga performa ekonomi yang diberikan oleh pemerintah.
Ukuran-ukuran ekonomi bagi rakyat, amat sederhana. Mampukah mereka membeli kebutuhan-kebutuhan pokok untuk kehidupan sehari-hari, atau tidak. Apakah pendapatan mereka masih mampu menopang kehidupan keseharian mereka, atau tidak. Apakah mereka tidak terancam PHK setiap saat, atau tidak.
Lebih konkret lagi, apakah mereka punya pekerjaan tetap atau tidak tetap yang bisa menghasilkan sesuatu demi sesuap nasi, ataukah tidak. Mereka tidak ribet dalam mengukur kondisi kehidupan mereka sendiri. Parameter mereka amat jelas. Inilah yang menjadi penentu, apakah rakyat mengguntur atau tidak. Agenda politik adalah agenda turunan dari kondisi ekonomi rakyat.
Maka, rezim pemerintahan mana pun sekarang ini, seyogianya cepat memotret dan belajar dari gemuruh Timur Tengah ini. Angka-angka statistik formal yang acapkali diajukan oleh berbagai rezim pemerintahan, yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi, selama tidak melepaskan lilitan ekonomi yang mencekik rakyat dengan parameter-paramater konkret di atas, rakyat tetap tidak menerimanya sebagai kemajuan.
Lalu, saya pun teringat dengan sebuah peribahasa: guru yang baik, adalah belajar dari pengalaman, termasuk pengalaman dari gemuruh Timur Tengah sekarang. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s