Curanmor, Korupsi, Ekstasi…. Apa lagi? (renungan singkat dibalik grasa-grusu Pemilu)

Menghitung hari, tak sampai sebulan lagi menjelang detik-detik Pemilu 9 April 2009, yang katanya mejadi pesta rakyat di seantero nusantara dan genap menginjak  usianya yang telah sampai pada putaran kesepuluh semenjak Pemilu 1955, saksi bisu kembang kempisnya sistem pemerintahan di Indonesia ini. Bukan peristiwa kecil memang, meskipun tidak sebombastis perjalanan Obama dalam langkahnya menyemat gelar Presiden Amerika Serikat yang beritanya digaungkan dan ditunggu, tidak hanya di negaranya sendiri, tetapi juga menjadi momen yang dinanti di tiap sudut mata dunia.

            Namun tetap saja, di Indonesia sendiri sudah sejak lama grasa-grusu menjelang Pemilu 2009 mulai dirasakan. Jangan jauh-jauh, lihat saja foto-foto Caleg yang menjamur di tiap sudut tikungan jalan, dengan semboyan dan jargonnya untuk membeli kecap A, kecap B, atau kecap C. intinya jualan kecap! menggembar-gemborkan bahwa kecap merekalah yang nomer 1. Yang paling manis dan bla bla bla… anehnya, terlihat sekali bahwa sepertinya para Caleg lah yang sibuk sendiri, malah masyarakat terlihat santai, padahal, sekali lagi, seharusnya Pemilu menjadi pestanya rakyat, bukan pestanya golongan tertentu yang tiba-tiba namanya muncul di Dapil suatu daerah, padahal sebelumnya, nampak saja tidak aksi dan gelagatnya, apalagi bau kontribusi nyata mereka, sama sekali tidak tercium.

            Belum lagi terpilih menjadi wakil rakyat yang sesungguhnya, tetapi topeng-topeng hitam yang melekat di wajah beberapa oknum Caleg tertentu mulai terkelupas, sepandai-pandai tupai melompat memang suatu saat akan jatuh juga. Namun hal inilah yang mengecewakan rakyat, bayangkan saja, dari pemberitaan di kaca TV terdengar kasus kurang sedap yang menghinggapi beberapa Caleg, mulai dari Caleg yang tertangkap membawa ekstasi, terjerat kasus korupsi, sampai-sampai kasus pencurian motor yang baru-baru ini terjadi. Sungguh perbuatan yang menorehkan krisis kepercayaan di hati rakyat.

            Meskipun begitu, janganlah kita mengikuti jejak kelam beberapa pihak  tidak bertanggung jawab yang hanya menginginkan kekuasaan, menyedotnya sampai habis dan menyisakan kerak duka di dasar relung nurani rakyat. Kita tetap harus memilih, yang terbaik diantara yang baik, atau apesnya, memilih yang terbaik diantara yang buruk. Jangan sampai kedepannya kita hanya bisa memprotes dan tidak menerima orang-orang yang terpilih kelak.

            Cukuplah peristiwa yang sudah terjadi, catatan rapor merah yang sudah menghiasi pra-Pemilu 2009 menjadi pelajaran tersendiri yang bisa kita renungkan hikmahnya. Dan yang terpenting, jadilah bibit baru yang berbobot dan berkualitas agar masa depan negri kita yang tercinta ini berada ditangan orang yang tepat, agar suatu hari nanti kita tidak hanya gemar  mengkritisi tanpa tindak konkret yang bisa kita sumbangsihkan. Tidak ada yang tidak mungkin saudaraku! Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari sekarang. insyaAllah!!! (pipit)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s