Aktivis Lilin

Tulisan ini ditulis di buku tamu,

Akan tetapi karena dirasa cukup panjang, maka operator masukkan ke tulisan kader..lumayan cocok untuk taujih

BismilLah….
Special For SC MUSYKOm..& for AlL…
INi ana dapat cerita yang cukup menarik ,
Nyambung dengan pa yang disampaikan An-Nahl 1011
Smoga jadi bahan Intropeksi:
Insya AlLoh…

Aktivis Lilin

Sebuah gambaran seorang aktifis dakwah dikampus. Gambarannya seperti ini, ketika seorang hamba memiliki kuantitas ibadah yang bertambah, maka korelasinya seharusnya positif terhadap kualitas keimanan hamba tersebut. Dalam perspektif dakwahpun seharusnya berlaku hal yang sama.Seorang aktivis, ketika frekuensi aktifitas dakwahnya semakin padat, maka seharusnya memiliki kualitas keimanan yang juga meningkat. Akan tetapi kenyataan dilapangan terlihat agak berbeda. Sering kali aktivitas yang padat justru menyerap habis kesabaran, tabungan empati, dan kedewasaan seorang da’i. ia menjadi lebih emosional, kehilangan nuansa ukhuwah, dan yang LEBIH PARAH adalah melihat AMANAH DAKWAH menjadi BEBAN. Ia merasa terjebak dalam sekedar aktifitas formal keorganisasian. Bahwa semua amalan dakwah tersebut tidak berbeda dari amalan mahasiswa lain yang menggelar music kampus. Parahnya lagi, mereka terlihat lebih hidup dengan dinamika kegiatannya, dibanding dengan nuansa yang kita miliki dalam amanah dakwah ini.

Bahkan kadang kadang setan datang dan memberikan was-was . muncul pertanyaan-pertanyaan, susah amat sih menjadi baik dihadapan orang. Atau ungkapan, ane merasa memiliki kepribadian ganda, didepan mahasiswa selalu dituntut untuk baik, tapi sebenarnya ane agak lemah ketika sendirian dan seterusnya. Hal-hal yang selanjutnya melemahkan semangat dakwah kita.

Gambaran kondisi aktivis dakwah diatas adalah gambaran aktivis lilin. Tampil sebagai da’I yang memberikan pencerahan kepada masyarakat kampus, akan tetapi secara sadar membakar habis potensi keimanan yang dimiliki. Penyebabnya adalah pemahaman yang memandang agenda dakwah berbingkai kegiatan organisasi selalu lebih utama dari agenda pembinaan. Prilaku turunnya adalah tidak jarang aktivis dakwah meminta ijin dari jadwal tarbiyah karena ada syuro dakwah. Ketika itulah keimanan tersebut tidak ter up-grade. Padahal itulah bekalan yang harus tersedia dalam agenda dakwa, sekecil apapun. Akibatnya secara sadar, karena lemahnya pemahaman, aktifitas dakwah tersebut “membakar” habis potensi dirinya. Saat ketika itu terjadi future adalah konsekuensi yang paling logis yang pasti terjadi.Tanpa kita sadari, kita sering kali terjebak dalam konteks tersebut. Semangat yang kita miliki dalam dakwah sangat kondisional. Tidak di beck-up oleh agenda persiapan yang memang dilakukan secara berkesinambungan. Tidak masalah ketika lingkungan kondusif untuk dakwah, kita akan tampil tetap optimal. Tetapi ketika lingkungan melemah, dan tuntutan dakwah hanya tersampir di pundak segelintir ikhwah, maka kitapun melemah. Tidak mustahil akhirnya semangat dakwah kita meleleh dan akhirnya padam, layaknya sebatang lilin.

Ikhwah, kembalilah kepada tarbiyah, sebagai langkah awal memulai kehidupan dakwah kita. Sebagai lingkungan yang membangun karakter mujahid diri kita. Karena dakwah ini, dalam penerapannya, tidak hanya menuliskan kisah-kisah keberhasilan dan kejayaan, melainkan juga penderitaan dan kesedihan, kisah pengorbanan yang menuntut pembuktian.
Dengan tarbiyah mari berhimpun kadalam barisan aktivis dakwah, bukan aktivis lilin. Karena tarbiyah adalah wujud langsung komitmen terhadap Allah SWT dan Rasulullah saw. Proses pembinaan diri mengarahkan kita untuk taat kepada ketetapan Allah dan Rasulullah. Yang kadang menuntut komitmen dan memajsa kelemahan diri kita. Yang juga berarti menyiapkan kita untuk dapat bertahan dalam mihnah dan beban dakwah yang berat. Bagaimakah kita melatih diri agar tidak termasuk orang-orang yang tersindir dalam firman Allah, “Apakah kamu mengira kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mreka ditimpa oleh maapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah orang-orang bersamanya:bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS.2:214)

Masihkah kitabisa merasatidak merugi?, mengurangi dan tidak mengoptimalkan kesempatan dalam pertemuan tarbiyah kita? Belum tibakah saatnya memaksa kelemahan diri untuk pada semangat kebangkitan yang sering kita cita-citakan. Kinilah saatnya kelemahan kita sampirkan. Saatnya mengkontruksi ulang semangat dakwah yang hidup dalam jiwa kita. Mengambil kesempatan yang masih tersedia untuk berhimpun dalam kemuliaan dakwah. Sehingga lahir kekuatan iman dari proses yang tersusun dan teratur. Sehingga kita bisa berdiri tegak menatap tantangan dakwah ini. Menatap kelemahan aktivis yang satu persatu gugur dalam jalan ini , sambil dengan sedih kita berkata,” biarlah mereka jika tidak ingin bertahan dalam hidup mulia ini, bahkan sekiranya hanya tersisa kesendirian dalam mengusung dakwah ini, maka itulah diri kita.
“Sebenarnya umat islam tidak kekurangan kuantitas, tetapi telah kehilangan kualitas. Kita telah kehilangan bentuk dan keteladanan manusia muslim yang kuat imannya, yang membulatkan dirinya untuk dakwah, yang rela berkorban dijalan dakwah dan jihad fisabilillah., dan yang senantiasa istiqomah sampai khir hayatnya. Maka marilah kita beriltizam dengan tarbiyah dan janganlah kita ridha menukarnya dengan cara-cara yang lain. Inilah arahan yang mengajarkan kita tentang tujuan dari sebuh kerisauan. Satu perasaan yang senantiasa kita butuhkan untuk memantapkan satu kata dalam konsep diri kita …KEDEWASAAN. Kerisauan inilah yang seharusnya kita yempatkan diatas rel yang benar. Kepada umat dan kader dakwah ini, risau karena kualitas, dan bukan hanya pada kuantitas. Risau pada diri kita, kepada keluarga, dan kepada seluruh manusia yang telah dan akan membangun interaksinya dengan kita. Interaksi spesifik, interaksi ketaatan, interaksi dakwah.”(taujihad yang disampaikan Syaikh Mustafa Masyhur)

nb:
Isi buku control amal yauminya y…
Sebenarnya bukan karena buku itu,tapi lebih pada…
buku tersebut untuk mempermudah antum untuk controlingnya,
Karena fitrah manusia dalam keterbatasan mengingat sesuatu,
sadar atau tidak, bahwa jmemori atau daya ingat manusia itu terbatas.
Serta untuk mengetahui grafik amal yaumi antum perharinya…
Meningkatkah… atau menurunkah???
Hanya antum dan Allah yang tahu,…
Allahu’alam bi showab…
Mari saling mengingatkan!!!!
Hamasah!!!
Bangkit Dobrak Stagnasi!!!

By:Ta’Lim Div
KD 08/09 KAMMI IOII

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s