MEREDEFINISI ARAH GERAKAN KAMMI 1011 (part1)

Kiranya  kepengurusan Bangkit , Dobrak Stagnasi ini telah berada pada fase setengah perjalanannya. Banyak pencapaian konstruktif yang telah berhasil terwujud begitu pula masalah dan cita-cita perubahan yang belum ditunaikan. Visi perjuangan kita, Penguatan Jaringan Gerakan KAMMI dalam kampus dan lingkungan masyarakat berbasis kaderisasi telah menghadirkan sebuah konsekuensi gerakan yang dinamis, inklusif, komunikatif, dan proporsional, yang didukung oleh kapasitas dan performa yang matang, baik  secara individu maupun organisasi. KAMMI dituntut untuk tidak hanya reaktif terhadap isu yang muncul di tataran public, tetapi demikian harus proaktif dalam tindakan yang preventif, mengawal  hingga menjadi director of issue yang akan memperkuat eksistensi dan logika manfaat KAMMI bagi masyarakat dan dakwah.

Kenyataannya, KAMMI masih belum aktif dalam menampilkan sikap/ wacananya baik di kampus dan masyarakat  dikarenakan belum berkembangnya sistem yang akan memproduksinya dan kesadaran yang merata di setiap kader uantuk berperan di dalamnya. Beban masih terpusat di salah satu departemen saja. Memang, dibutuhkan kepekaan dan energi perjuangan yang panjang untuk tetap istiqomah dalam kompleksitas masalah, dinamika konstelasi sosial politik dan tantangan internal. Namun, dengan tsabat dan tadhiyah dakwah, uncomfort zone itulah yang ternyata memberi kehidupan bagi perjalanan kita. Karena stagnasi atau diam, adalah tanda kematian sebuah gerakan. Kita harus mampu membuka celah komunikasi dengan elemen gerakan lain, melakukan negosisasi politik jangka panjang, serta bersinergi atas dasar common enemy (musuh bersama) dan kepentingan masyarakat. Intinya, KAMMI harus mampu diterima dan menerima siapapun. Terbuka dan fleksibel dalam gagasan bahkan hingga dalam kondisi yang ekstrim namun masih dalam koridor yang wajar.

Bargaining position (nilai tawar) tergantung pada  kualitas dan citra gerakan. Salah satu parameter kualitas adalah tingkat intelektualitas dan referensi. Dimana kita harus menghidupkan budaya ilmiah hingga bagian terkecil dalam bangunan organisasi ini sebagai landasan. Mengakomodasi gagasan para pakar dan mengelolanya ke dalam sebuah ide, wacana hingga kegiatan riil. Harapannya melalui tradisi membaca, menulis dan berdiskusi, gerakan ini dapat mengakselerasi. Sehingga kita tampil percaya diri dalam dialektika, dengan ideologi (platform) yang kokoh terjaga. Inklusifitas kita, adalah bagaimana menjadikan organisasi ini sebagai tempat pembelajaran politik para kader dakwah dan masyarakat awam, tidak hanya mencerdaskan tetapi mencerahkan. Sehingga sudah saatnya kita membuka ruang-ruang partisipasi itu, hingga tidak ada lagi alasan bagi sedikitnya peserta dalam kegiatan kita, atau pandangan negative terhadap kontribusi KAMMI bagi dakwah. PR kita saat ini adalah bagaimana kembali menghidupkan sense of politic dalam tubuh organisasi ini. Dan hawanya begitu pekat terasa dalam syuro-syuro, kunjungan-kunjungan hingga kegiatan –kegiatan. Karena itulah added value atau identitas kita. Sehingga publik menangkap kehadiran kita sebagai referensi/ kebutuhan baru dengan antusias.  Dedikasi pada masyarakat  bisa diwujudkan dengan mengambil momentum nasional dan daerah, atau menyikapi isu local yang berkembang. Permasalahannya adalah interaksi dan jaringan dengan masyarakat belum cukup memadai dan terkonsep dengan matang. Serta belum adanya konsolidasi dan komitmen yang merata pada kader maupun struktural untuk menjalankan misi dakwah tersebut di atas. Kita harus membagi focus dan energi secara proposional. Karena kita juga memiliki domain gerakan di dalam kampus.

Citra bagi gerakan ekstrakampus seperti KAMMI layaknya senjata. Kita bisa menyerang atau terbunuh karenanya…Publik harus mengetahui hasil-hasil kerja kita. Mengemas komunikasi dalam media merupakan pekerjaan yang tidak bisa dianggap sepele, karena itulah yang akan membentuk persepsi publik mengenai eksis tidaknya, produktif tidaknya dan kontributif tidaknya organisasi ini. Jangan sampai kita sudah bekerja banting tulang untuk menyukseskan sebuah agenda, namun publik tidak mengetahuinya. Dan KAMMI tetap dianggap stagnan dan mati suri. Namun yang tidak boleh terlupa adalah komunikasi dan informasi yang harus dikonsumsi oleh kader KAMMI sendiri. Sehingga kebutuhan kader akan apresiasi terhadap kinerjanya, serta wacana yang mencerdaskannya akan terpenuhi. Bagaimana karya-karyanya dapat tersalurkan dan mereka dapat berinteraksi secara cerdas melalui media. Bagaimana kita bisa merekam jejak sejarah kita sendiri untuk dikenang atau demi menambah motivasi perjuangan ini. Namun inkonsistensi telah mengambat semuanya, meskipun sudah terkelola cukup dinamis pada awalnya. Dan kondisi inilah yang harus kita dobrak untuk menghadirkan spirit gerakan yang terus terpelihara.

Citra pada dasarnya berbeda dengan reputasi. Citra adalah persepsi public dengan sudut pandang yang berbeda-beda hingga citra kitapun tidak sama di mata public yang heterogen. Reputasi adalah kesesuaian antara identitas, cita-cita, image yang ingin kita bentuk, dengan persepsi yang timbul di mata dan pikiran khalayak. Sehingga untuk menjembatani itu semua diperlukan peforma yang excellent. Di sini kita sedang berbicara tentang profesionalitas dan kepemimpinan…….(bersambung)

febrinanda@yahoo.com (sedang berusaha untuk kembali aktif menulis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s