AREK ITS VS BOCAH ITB

Mengapa banyak orang beranggapan bahwa makhluk2 yang kuliah di ITB itu punya kualitas yang lebih baik dibandingkan arek2 ITS di timur. Padahal kalau berbicara kapasitas secara akademis, ITS cukup bisa berkompetisi atau dalam beberapa bidang, mereka lebih unggul. Lalu mengapa para pengusaha terkenal atau pejabat pemerintahan yang sukses di negeri ini didominasi oleh para jebolan ITB? Dan kita baru cukup berbangga dengan naiknya Muhammad Nuh sebagai Menkominfo atau Rahardi Ramelan yang berhasil merampungkan bukunya dalam jeruji lapas. Jika domainnya diperluas, kita sedang dihadapkan pada sebuah pertarungan nilai dan budaya antara negeri barat dan timur Indonesia.
Secara overall, mahasiswa yang mengenyam pendidikan di negeri barat memiliki karakter yang lebih berani untuk tampil berbicara, berkompetisi atau berbeda dari lingkungan sekitarnya. Atau secara personal, mereka lebih percaya diri entah karena mereka berasal dari almamater yang bergengsi serta memiliki nilai historis yang tinggi, atau mereka memiliki persepsi (baca:ego) intelektual yang tinggi. Yang jelas, seharusnya dimana-mana, bocah ITB itu lebih cerdas daripada arek ITS. Itu mungkin yang ada di benak bocah2 ITB yang selalu bisa berjalan atau bersikap dengan kepala tegak serta tampil dominan di berbagai forum. Meskipun seandainya wacana atau informasi yang mereka kuasai hanya 20 persen, namun mereka selalu terlihat pintar dan seolah-olah 100 % memahami permasalahan. Mereka terampil dalam membahasakan gagasan. Referensi dan wawasan yang luas membuat mereka mampu mengolah sebuah topic dan mengupasnya dari berbagai sudut pandang, menyentak dengan beberapa joke hingga terdengar menarik dan terlihat cerdas. Mereka tampil menghegemoni. Inilah yang mematikan potensi competitor mereka yang hanya bisa senyam senyum, tertunduk malu-malu meski sebenarnya mereka lebih kaya wacana dan menguasainya. Sehingga mahasiswa dengan personality seperti ini tentunya akan kalah dalam persaingan.
Low Profile. Karakter ini seperti sebuah budaya yang mengungkung sebagian besar arek ITS. Faktor geografis ? No.Logikanya manusia yang hidup di daerah bersuhu panas seperti Surabaya, lebih sangar dibandingkan penduduk dataran tinggi seperti Bandung. Faktor adat? Itu dulu. Lingkungannya orang Sunda tentu seharusnya lebih santun dibandingkan Jawa belahan timur yang terakulturasi oleh karakter Madura. Tapi saat ini beragam pemikiran, gaya hidup, teknologi lebih mudah di-update di negeri barat. Dan ITS yang didominasi penduduk asal negeri timur, seringkali terlambat. Sehingga orang timur justru menjadi lebih santun.. Sayangnya mengapa mental low profile tersebut terus menerus bertahan hingga menjadi overall trademark. Dan tak jarang, mahasiswa yang sebelumnya dibesarkan di Barat, terhegemoni oleh mentalitas seperti ini. Seharusnya seiring berkembangnya media informasi dan ketatnya ruang kompetisi, kita harus mendobrak tradisi berpikir kalah atau inferior seperti ini. Saatnya memunculkan rasa percaya diri bahwa arek ITS itu ga kalah pintar dengan bocah ITB. Meskipun memang jika berbicara dunia kerja, ego personal yang tinggi itu tidak mutlak menjadi keunggulan, karena kita sedang berbicara dalam dunia teamwork. Dan arek ITS terbukti memiliki kualitas teamwork yang lebih baik dengan berhasil (baca: lebih sering) mempertahankan tradisi juara di kompetisi KRI/ KRCI. Namun yang menjadi tantangan kita adalah bagaimana menjadi bintang yang high profile diantara rekan-rekan team kita. Berkomunikasi dengan cerdas, dominan dan menjadi referensi tim adalah pekerjaan yang menggabungkan intelektualitas, pembiasaan dan keberanian. Mulailah membangun interaksi dengan bocah2 barat, entah melalui FB, milis, Friendster dan sebagainya sehingga kita akan menghadirkan lingkungan yang berbeda dan mempengaruhi pola pikir kita. Yang perlu digaris bawahi, bahwa tulisan ini dibuat berdasarkan sampel yaitu saya dan sepupu saya yang kuliah di ITB, dan kesimpulan dari beberapa forum nasional yang saya ikuti.
Ingat, bahwa baru berbicara dalam konteks nasional. Ingatlah bahwa ke depan, para pribumi akan berhadapan dengan para lulusan universitas swasta (baca: china) yang sangat well educated, memiliki akses/ jaringan internasional serta mendapat sertifikasi di berbagai Univesitas 10 besar dunia. Bersiaplah……Cak… Ga semua yang lo denger itu bener…

febrinanda@yahoo.com.(buah diskusi bersama paman di rumahnya yang sejuk…..Bogor)