Leadership tanpa kekerasan gaya Jokowi (Walikota Solo)

by Isa Alamsyah

jokowi-walikota solo hingga 2015Leadership tanpa kekerasan dan excuse gaya Jokowi (Walikota Solo)

Tokoh Perubahan 2010 Republika
Baru beberapa saat setelah Joko Widodo (Jokowi) menjabat sebagai walikota Solo, kepala Satpol PP datang kepadanya untuk meminta dana untuk membeli 600 pentungan dan 600
tameng. Maklum saat itu pedagang kali lima merupakan salah satu sumber kesemrawutan di kota Solo.
Joko tersentak, dan berkata;” Saya tanya, mau menggebuki atau mengayomi rakyat?”
Sejak saat itu Joko memerintahkan seluruh tameng dan pentungan dikumpulkan dan dimasukkan dalam gudang dan dikunci.
Untuk mempertegas citra pemerintahan tanpa kekerasan, Joko juga mengganti sosok kepala satpol PP yang identik dengan pria besar berwajah garang dengan seorang wanita.
Lalu apakah ia berhasil menertibkan pedagang kaki lima tanpa kekerasan?
Tidak hanya sukses ia kini bahkan menjadi tokoh inspirasi.
Republika baru saja menobatkannya sebagai salah satu tokoh perubahan 2010.
Sebelumnya, pada tahun 2008 ia terpilih sebagai tokoh pilihan 2008 versi majalah Tempo.
Menertibkan kesemrawutan tanpa kekerasan memang bukan perkara mudah.
Konon, untuk memindahkan pedagang kaki lima Banjarsari saja, Jokowi mengajak para pedagang untuk makan siang bersama lebih dari 50 kali. Ia baru mengungkapkan rencana pemindahan PKL tersebut setelah makan siang ke-54.
Pemindahan pedagang kaki lima ke lokasi baru pun dilakukan dengan tanggung jawab.
Ia mengadakan pawai meriah khusus untuk prosesi pemindahan pedagang tersebut.
Pawai ini membuat lokasi baru tersebut diserbu masyarakat.
Jokowi juga memegang prinsip No Excuse! dalam membangun kota Solo.
Kota Solo bisa dikatakan sebagai kota dengan sumberdaya terbatas.
Wilayahnya sempit dan sulit untuk dikembangkan, kalau saja ia mau excuse.
Industri berkembang di sekitar Solo bukan di wilayahnya, perumahan baru dibangun di luar kota Solo, bahkan Airport berada di luar kota Solo.
Tapi Jokowi juga sadar, masih ada potensi yang bisa dikembangkan.
Orang dengan prinsip No Excuse akan fokus pada yang ada bukan apa yang tidak ada.
Ia membangun sumber daya manusia (human resourses), dimulai dari aparat, bahkan dimulai dari dirinya sendiri.
Sebagai pemimpin ia menunjukkan pola hidup sederhana. Mobil dinasnya adalah mobil bekas pejabat sebelumnya; Hyundai Trajet dan Toyota Camry yang berusia lebih dari 10 tahun. Semasa dinas, Camry-nya sudah mogok 4 kali. Supirnya sering jadi bahan cemooh supir dari walikota atau bupati wilayah lain.
Bagi Joko, kesederhanaan membuatnya bisa fokus dalam bekerja untuk rakyat, tidak berpikir memperkaya diri sendiri.
Untuk membangun SDM aparat, ia mengadakan pelatihan rutin untuk pegawainya. Karena pelayan profesional aparat akan mempermudah pengembangan kota. KTP, yang dulu dibutuhkan waktu berminggu untuk membuatnya, kini bisa dibuat hanya dalam waktu 1 jam dengan biaya cuma Rp 5.000.
Untuk membangun SDM rakyat, Joko memberi dukungan penuh pada pengusaha lokal.
Ia juga membuka kran investasi yang siap menggandeng pengusaha lokal atau memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Sejak awal walikota yang berlatar belakang pengusaha furnitur ini, sudah menempatkan pemihakannya kepada rakyat.
Dalam 5 tahun pemerintahannya, ia mendirikan 15 pasar tradisional, padahal sebelumnya tidak ada pasar tradisional baru selama 30 tahun.
Ia memilih untuk membuat satu pasar tradisional milik puluhan warga daripada puluhan hipermart milik satu pengusaha.
“Kami ingin bukan hipermart yang banyak di Solo, tapi pasar tradisional dan pedagang kecil,” ujarnya.
Potensi lain yang dilirik adalah tanah-tanah terlantar. Taman Belekambang yang terlantar dijadikan taman, begitu juga tanah terlantar lainnya. Untuk keindahan kota, ia juga merapihkan kabel listrik yang semrawut .
Setelah pembenahan kota berjalan baik, sang walikota masuk ke agenda berikutnya.
Ia mencanangkan kota Solo sebagai kota Meeting, Incentive, Convention dan Exibition.
Menjadikan Solo sebagai daerah kunjungan wisata dan seminar dengan memanfaatkan hotel yang ada dan peninggalan sejarah yang tersisa.
Kunjungan orang dari luar berarti uang masuk ke kantong-kantong orang di kota Solo.
Ia menerapkan pemerintahannya sebagaimana ketika menjalankan bisnis.
Ia memulai dengan menciptakan branding kota Solo. Sang walikota mendaftarkan Solo sebagai anggota organisasi Kota-Kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006.
Pada Oktober 2008 ia berhasil mengadakan konferensi organisasi tersebut di Solo.
Pada tahun 2007 kota Solo menjadi tuan rumah Festival Music Dunia di kompleks benteng Vastenberg yang sebelumnya sempat terancam tergusur untuk dijadikan pusat perbelanjaan dan bisnis. Pada tahun 2008 FMD diadakan lagi di komplek Istana Mangkunegaraan.
Usahanya membawa hasil, Solo berkembang pesat, dan rakyat kembali memilihnya menjadi walikota untuk periode berikutnya sampai 2015.
Semoga Pak Walikota tetap konsisten dengan visinya dan berhasil mencapai impiannya membangun Solo menjadi kota sekelas kota-kota di Eropa.
Jabatan politik di Indonesia mungkin hanya bisa di pegang maksimal 10 tahun, tapi kita bisa abadi dengan karya kita ketika menjabat.
Selamat atas terpilihnya Sang Walikota sebagai Tokoh Perubahan 2010, semoga semakin menginspirasi.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s